Gawai dan telepon cerdas dalam genggaman anak-anak

By nero taufik 31 Okt 2017, 20:39:55 WIBparenting
Gawai dan telepon cerdas dalam genggaman anak-anakah berumah tangga dan memiliki anak. Pengalaman pertama, waktu itu saya berkunjung ke rumah seorang teman yang kebetulan menjadi ajengan atau ustad. Ia memiliki tiga orang putri. Satu baru masuk SD, satu PAUD, dan satu lagi  masih bayi. Waktu itu teman saya mengabarkan bahwa anak sulungnya sudah mampu menghafal sebagian besar surat-surat Al-Quran yang terdapat pada juz 30. Ia menuturkan, bahwa kemampuan anaknya tersebut lantaran sering mendengarkan murotal dari ponsel cerdas yang ia miliki. Selain itu, anaknya juga piawai bermain game-game yang berisi pengetahuan. Ketika ditanya tentang intensitas anaknya memegang ponsel cerdas, teman saya menyatakan, sangat sering. Hal itu dilakukan untuk mempercepat kemampuan hafalan anaknya.  Lebih lanjut ia menyatakan tentang rencananya membeli lagi ponsel cerdas untuk anaknya yang kedua. Rencananya tersebut terangsang, minimal karena dua alasan. Satu, melihat kemampuan anak sulungnya dalam menghafal Al-Quran. Dua, karena sering terjadinya keributan antara si sulung dan anak yang kedua, yang dipicu rebutan ponsel. Cerita lain datang ketika saya berkunjung ke rumah salahseorang teman lama yang sudah menjadi guru. Pada saat kunjungan tersebut, saya mendapati anaknya sedang rewel, sementara ia (orang tuanya) sedang membutuhkan konsentrasi tingkat tinggi demi menyelesaikan pekerjaannya mengisi ijazah. Sebagai bentuk tanggapan terhadap anaknya yang rewel, teman saya segera mengambil gawai, membukanya dan memberikan serta menyarankan anaknya untuk main game. Alhasil, cara ini sangat jitu. Anaknya segera diam, dan anteng bermain game. Alasan  ketiga lahir, waktu saya sedang nongkrong di sebuah kedai kopi. Waktu itu, tiga orang bapak-bapak sedang asik menikmati kopi sambil bercakap. Percakapan yang sangat akrab mengalir. Tidak sengaja saya menguping curhat salahserong diantara ketiganya. Ia mengatakan bahwa anaknya meraju